A. PERJUANGAN MENCAPAI KEMERDEKAAN
Semboyan Imperialisme Kuno di Eropa, yaitu Gold (keemasan), Glory (kejayaan), dan Gospel (keagamaan) menyebabkan negara-negara tergiur untuk berkeliling dunia untuk mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Sehingga Indonesia yang dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah terutama rempah-rempah mendorong bangsa-bangsa Barat untuk mendatangi Indonesia.
1) Masa VOC (1602-1811)
Orang belanda yang pertama kali datang ke Indonesia adalah Cornelius De Houtman pada tahun 1596 di daerah Banten, kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Maluku. Dan ia kembali ke negerinya dengan membawa rempah-rempah yang sangat banyak. Hal ini menyebabkan banyak pedagang –pedagang Belanda datang ke Indonesia. Untukmenghindari persaingan antar pedagang, maka pada tahun 1602 didirikan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Dengan mendirikan kantornya di Jayakarta (Jakarta sekarang).
1. Kebijakan VOC :
a. Rakyat Maluku dilarang menjual rempah-rempah selain kepda VOC.
b. Jumlah tanaman rempah-rempah ditentukan VOC.
c. Tempat menanam rempah-rempah ditentukan VOC.
Penerapan kebijakan diatas diawasi oleh pelayaran Hongi, yaitu patroli dengan perahu kora-kora dilengkapi senjata. Hukumam yang diterima jika melanggar kebijakan tersebut adalah hukuman ekstirpasi, yaitu pembinasaan tanaman rempah-rempah milik petani atau dibunuh atau disiksa.
Untuk mencapai tujuannya dalam memperoleh hasil-hasil bumi Indonesia, VOC mempergunakan raja-raja dan para bupati sebagai alat memperkokh kebijaksanaan dagangnya. Meskipun demikian, VOC selalu mendapat kesulitan di bidang keuangan, serta terus-menerus dililit utang.
Ada tiga hal yang menjadi sebab kesulitan VOC di bidang keuangan, yaitu :
a. VOC banyak mengeluarkan uang untuk membiayai perang melawan rakyat.
b. Kekuasaan VOC semakin luas sehingga memerlukan biaya banyak untuk pemerintahan dan menggaji para pegawai.
c. Para pembesar VOC banyak yang melakukan korupsi.
2. Keruntuhan VOC
Masalah keuangan dalam VOC semakin memburuk dan juga persoalan lain yang timbul dinegaranya sendiri menyebabkan VOC pada tanggal 31 Desember 1799 dibubarkan oleh Pemerintah Republik Bataaf. Semua urusan keuangan, jajahan, kekayaan, termasuk utang piutang VOC diambil alih oleh pemerintahan Republik Bataaf. Selajutnya pada tahun 1806, Republik itu dibubarkan oleh Kaisar Napoleon dari Prancis. Kemudian ia diangkat menjadi Raja Belanda. Kemudian Raja Louis Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Hindia-Belanda (1808-1811) untuk mempertahankan Pulau Jawa.
Hal-hal yang dilakukan Daendels adalah:
a. Membangun jalan Anyer-Panarukan sepanjang 1.100 km.
b. Membangun pangkalan armada di Anyer dan Ujungkulon.
c. Memaksa rakyat menanami kopi yang hasilnya diserahkan kepada pemerintahan.
d. Menjual tanah-tanah negara kepda pihak swasta asing.
Namun pada masa pemerintahannya Daendel diganti Gubernur Jendral Jansens karena melakukan pemerasan kepada rakyat. Namun dalam pemerintahannya, Jansens tidak dapat berhubungan dengan baik dengan raja-raja di Jawa dan kemudian pada tanggal 11 Agustus 1811 Pasukan Inggris mendarat di Batavia dan juga mendesak Belanda menyerah melalui Perjanjian Tuntang.
Isi Perjanjian Tuntang adalah :
a. Seluruh kekuatan militer Bekanda di Asia Tenggara harus diserahkan kepada Inggris,
b. Utang pemerintahan Belanda tidak diakui.
c. Pulau Jawa, Madura, dan semua pangkalan Belanda di luar Jawa menjadi wilayah kekuasaan Inggris.
2) Masa Pemerintahan Kolonial Inggris (1811-1816)
Sejak Perjanjian Tuntang, beralihlah kekuasaan Indonesia dari Belanda kepada Inggris. Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur Hindia-Belanda.
1. Kebijakan-kebijakan pada Masa Pemerintahan Kolonial Inggris
a. Bidang Pemerintahan dan Politik
- Membagi pulau Jawa Menjadi 8 keresidenan (Desentralisasi Pemerintahan)
- Para diangkat menjadi Pegawai Negri
b. Bidang Ekonomi
- Memperkenalkan sistem ekonomi Innatura dengan tujuan memperkenalkan ekokomi uang kepada masyarakat dan menjamin pendapatan Inggris.
c. Bidang Sosial – Budaya
- Menghapus rodi (tanam paksa)
- Menulis buku History of Java ( Struktur Masyarakat Jawa).
Namun segala kebijakannya gagal karena terbatasnya keuangan negara .
2. Berakhirnya Pemerintahan Kolonial Inggris di Indonesia
Pada tahun1814, Kaisar napoleon runtuh, dan ini menyebabkan munculnya Konvensi Of London, yaitu suatu kesepakatan yang dibuat Inggris dan Belanda yang isinya :
- Indonesia dikembalikan kepada Belanda.
- Singapura dimilki oleh Inggris.
- Maka mulai saat itu Indonesia kembali dijajah oleh Belanda.
3) Masa Pemerintahan Hindia Belanda (1816-1942)
Pada masa ini, pemerintahan Hindia-Belanda mengalami banyak kesulitan keuangan akibat perang. Untuk mengatasi kesulitan itu, maka Johannes Van den Bosch. Gubernur Jendral Hindia-Belanda melaksanakan cultuur stelsel atau tanam paksa kepada rakyat.
1. Kebijakan-kebijakan Pemerintahan Hindia-Belanda
Sistem ini dibuat oleh Johannes Van den Bosch dengan menanam tanaman yang laku di pasar dunia dengan tujuan mengisi kasa Belanda yang mengalami defisit.
Ketentuan tanam paksa tersebut adalah :
- Seperlima tanah rakyat dipergunakan untuk tanam paksa.
- Tenaga yang dipergunakan untuk menanam tidak akan melebihi tenaga yang dipergunakan menanam padi.
- Tanah yang digunakan bebas dari pajak.
- Kegagalan panen ditanggung oleh Belanda.
- Hasil tanam paksa menjadi monopoli Belanda.
- Pengawas tanam paksa berasal dari pribumi yang digaji dengan sistem cultuur procenten (persen atau hadiah jika memberi tanaman melebihi target).
2. Dampak kebijakan –kebijakan Pemerintahan Hindia-Belanda
Pemerintah belanda seara langsung ikut campur tangan dalam dalam segala urusan dan segi pemerintahan kerajaan yang sangat berpengaruh terhadap Indonesia dalam segala aspek.
a. Bidang Politik
munculnya dua golongan dalam masyarakat, yaitu golongan sebelum politik etis ( membagi masyarakat menjadi golongan atas, memnegah, bawah) dan golongan sesudah politik etis (munculnya kaum terpelajar).
b. Bidang Ekonomi
masyarakat tidak bebas mengembangkan perekonomiannya sendiri karena diawasi dan dibatasi pihak pemerintahan kolonial.
c. Bidang Sosial
Para penguasa turun derajat dan hanya menjadi pembantu kolonial, dan rayat yang biasa diinjak-injak.
d. Bidang Budaya
Cara pergaulan, gaya hidup, bahasa dan cara berpakaian Barat mulai ikenal di Keraton dan mengikis tradisi-tradisi lingkungan Kraton maupun masyarakat.
e. Bidang Pendidikan
perkembangan pendidikan menunjukkan kecenderungan politik pendidikan khususnya dan pendidikan kebudayaan pada uumnya
f. Bidang Kepercayaan atau Keagamaan
Tersebar luasnya agama Kristen di seuruh Indonesia.
4) Perlawanan Rakyat terhadap Pemerintahan Kolonial yang Bersifat Kedaerahan
Karena Sifat para kolonial yang dianggap licik, kikir dan mudah ingkar janji serta sangat menyengsarakan rakyat dengan sistem tanam paksa, maka terjadi banyak pemberontakan dan perlawanan di setiap daerah.
a. Perjuangan rakyat Aceh (1873-1904)
Aceh mulai diserang Belanda sekitar tahun 1873 agar Aceh tunduk kepada kolonial Belanda. Perlawanan ini dipimpin oleh Tegku Cik Di Tiro, Panglima Polim, teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Dengan sebab adanya hubnugan politik (diplomasi antara Aceh dengan Turky, Amrika dengan Italia. Hal ini yang mengakibatkan kedudukan Belanda semakin terancam. Namun dalam perang melawan Aceh, Belanda sering mengalami kegagalan sebab alam Aceh yang bebukit-bukit, hutan yang lebat dan para pemimpin perang Aceh mengorbankan perang jihad (tidak takut mati).
Sehingga Belanda membuat taktik Consetrasi Stelsel yaitu mendirikan benteng pertahanan untuk memblokade rakyat Aceh dan mengutus Dr.Snoek Hongranye yang berpura-pura menjadi alim ulama. Dan pada tahun 1899 Aceh kalah dan menghasilkan perjanjian Plakat Pendek, yaitu:
- mengakui daerahya sebagai bagian dari kekuasaan Belanda
- Berjanji tidak akan berhubungan dengan bansa asing.
- Aceh menaati semua perintah-perintah Belanda
b. Perjuangan rakyat Maluku (1817)
Tokoh-tokoh yang terlibat :
- Thomas Mattulessi (Kapitan Pattimura)]
- Martha Christina Tiahahu
- Antonie Recbok
- Paulus Tiahahu
- Sultan nuku (Tidore)
Penyebab perang di Maluku ini adalah tindakan semena-mena VOC terhadap rakyat dan pemberlakuan politik retriksi yaitu penebangan pohon rempah-rempah. Pada tahun 1635 VOC menuntut agar Ternate mengakui kekuasaannya maka sejak itu timbullah perlawanan. Tidak hanya sampai situ saja pada tahun 1656 rakyat Maluku kembali melawan Belanda hingga pada tahun 1817 Pattimura sebagai pemimpin perlawanan ditangkap dan dibunuh.
c. Perlawanan rakyat Banten (1650-1682)
Perlawanan ini terjadi karena Banten menjadi bandar perdagangan yang bebas. Belanda pun menjalankan taktik adu domba (devide et impera) yang melibatkan Sultan Agung Tirtayasa dan Sultan Haji akibat perebutan tahta kerajaan. Taktik inipun berhasil dan pada tahun 1683 Sultan Agung tertangkap .Dengan tertangkapnya Sultan Agung, maka melahirkan perjanjian Banten yang isinya :
- VOC memonopoli perdagangan
- Sultan Haji menjadi Raja Banten
- Banten melepaskan jajahannya
d. Perlawanan rakyat Mataram(1628-1629)
Mataram sebagai sebuah kerajaan Islam mencapai puncak kejayaannya dibawah pimpinan Sultan Agung dengan cita-cita menyatukan pulau Jawa dibawah kekuasaan Mataram. Namun serangan-serangan terhadap yang dilakukan Mataram gagal karena jarak jauh, kekurangan bahan makanan, persenjataan yang masih sederhana dan taktik adu domba terhadap Mataram dengan raja-raja pesisir oleh VOC namun dalam peperangan ini rakyat Maluku berhasil membunuh Gubernur Jendral VOC yakni J.P.Coen. Dalam perlawanan ini menghasilkan beberapa perjanjian, yaitu:
a. Perjajian Gyanti (1755)
isi : Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.
b. Perjanjian Salatiga (1757)
Isi : Surakarta dibagi menjadi dua, yaitu mangkunegara dan Surakarta.
Dampak dari peperangan ini adalah :
- VOC menguasai Pulau Jawa
- Cita-cita Sultan Agung gagal
- Kerajaan Mataram dibagi menjadi 4 bagian
e. Perlawanan rakyat Yogyakarta (Diponegoro) (1825-1830)
Mataram setelah terbagi menjadi 4 bagian menjadi semakin merosot karena campur tangan Belanda semakin memuncak. Pada saat inilah Yogyakarta mengadakan perlawanan dengan sebab umum berkurangnya wilayah dan kekuasaan Mataram, berkurangnya pendapatan istana dan masuknya budaya Barat yang yang meruak budaya Mataram dan sebab khusus yaitu pembuatan tanda-tanda jalan yang melewati akam leluhur Pangeran Diponegoro yaitu putra tertua Hamengku Buwono III. Perlawanan Pangeran Diponegoro memperoleh kemenangan pada tahun 1826. Wilayah yang berhasil direbutnya adalah Pacitan, Purwadadi, dan Delenggu. Namun Belanda tidak tinggal diam dan segera menyusun kekuatan militer. 3000 tentara bantuan dari Belanda segera dikerahkan untuk menyerbu pasukan Diponegoro. Tidak mudah untuk melawan Diponegoro, karena dalam peperangan tersebut ia mampu membunuh 2000 tentara Belanda. Namun pada tanggal 28 Maret 1830 ia berhasil ditangkap dan dibuang ke Manado kemudian pada tahun 1834 ia dipindahkan ke Makassar dan pada tanggal 8 Januari 1855 ia wafat dan dimakamkan di kampung Melayu, Makassar.
f. Perlawanan rakyat Palembang
Tanggal 18 Desember 1811 dalam Perjanjian Tuntang antara Belanda dan Inggris menyebutkan bahwa Palembang, Timor, dan Makassar adalah milik Inggris . Rafflespun segera mengirimkan angkatan militernya untuk menguasai Palembang sehingga Sultan Badaruddin Mahmud II menyingkir ke pedalaman dan menjalankan Perang Gerilya. Namun, pada akhirnya Badaruddin dan putranya berhasil ditawan dan disingkirkan ke Betawi tanggal 3 juli 1821 untuk kemudian dibawa ke Ternate.
g. Perlawanan rakyat Minangkabau (1821-1837)
sekitar tahun 1821 di Minangkabau terjadi perseteruan antara kaum Adat dan Kaum Paderi. Sebab perseteruan ini adalah kebiasaan kaum Adat yang selalu melanggar ajaran agama Islam. Perseteruan inipun sampai kepada puncak peperangan yang situasi ini mdimanfaatkan Belanda untuk menguasai daerah minangkabau. Kaum Paderi menyerang pasukan Belanda dan selalu berhasil karena semangat peperangan Diponegoro berkobar pada masa itu. Hingga akhirnya belanda menyerah dan dan berdamai dengan Kaum Paderi. Namun setelah Perang Diponegoro padam, Belandapun melanggar perjanjian itu dan pertempuran segera berkobar di Pariaman. Pada akhinya Kaum Adat menyadari bahwa Belanda ingin menguasai Minangkabau dan berbalik arah membantu Kaum Paderi. Namun sayang, keberadaan Belanda telah sangat kuat. Pada tahun 1837, pemimpin Kaum Paderi, Imam Bonjol ditawan da dibuang ke Cianjur dan dipindahkan ke Minahasa. Tidak lama kemudian ia wafat dan dimakamkan di Pineleng, dekat Manado.
h. Perlawanan rakyat Makassar (1654-1668)
Sultan Hasanuddin (1654) selaku penguasa Kerajaan Makassar dalam menjalin hubungan dengan VOC menolak tiga permintaan VOC, yaitu:
- Makassar diminta untuk menyerang banda
- Hak monopoli dagang di Makassar
- Agar kapal Makassar jangan membeli rempah rempah dari Maluku.
Akibat penolakan permintaan VOC tersebut maka VOC menyerang Makassar dengan taktik:
- VOC melakukan blokade (melarang kapal yamg menju Makassar) namun gagal
- Taktik adu domba antara Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka yang menimbulkan perang antar sesama pemimpin Makassar. Dan sultan Hasanuddin kalah.
Kekalahan Sultan Hasanuddin menyebabkan ia harus manandatangani perjanjian Bongaya, yaitu:
- VOC mendirikan benteng di Makassar
- Makassar harus melepaskan daerah-daerah jajahannya
- Aru palaka diakui sebagai raja Bone.
- Memblokade pelayaran Makassar.
i. Perlawanan rakyat Banjar
Campur tangan Belanda mengangkat Pangeran Tamjidilah dan Pangeran Prabu Anomsebagai sultan di Banjar menimbulkan kecurigaan rakyat dan para ulama Banjar kepada Belanda. Hal inilah yang megobarkan semangat Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari beserta para alim ulama termasuk Surapati untuk melawan Belanda.Dalam pertempuran besar di Barito yang dipimpin Surapati, kapal ‘Onsurt’ milik Belanda berhasil dibakar dan ditenggelamkan. Namun kekuatan Belanda amat kuat sehingga Pangeran Hidayat terpaksa menyerah pada tahun 1861 lalu disingkirkan ke Cianjur, dan pangeran Antasari wafat tahun 1862, dan para alim ulama yang lain dihukum gantung dan ada juga yang gugur dalam pertempuran.
j. Perlawanan rakyat Tapanuli (1878-1907)
Pada tahun 1878, Pemerintah Hindia Belanda memperoleh kesempatan baik karena diminta bantuan oleh para pendeta Nasrani yang ditentang Sisingamangaraja, Raja Bakara (Tapanuli Tengah), dalam penyebaran agama Nasrani dan Belanda mendatangkan pasukannya ke Tapanuli. Akibatnya berkobarlah peperangan di Dairi Pakpak yang berlangsung selama 29 tahun. Sisingamangaraja gugur dalam pertempuran di Pakpak dan dikebumikan di Tarutung. Sejak saat itu Tapanuli sepenuhnya dikuasai oleh Pemerintahan Hindia Belanda.
k. Perlawanan rakyat Bali dan Lombok (1848-1906)
Sekitar tahun 1846, sesuai hukum tawan Karang yang isinya Kerajaan Buleleng harus mengembalikan kapal Belanda dan menuntut agar seluruh rakyat Buleleng tunduk kepda pemerintahan Hindia Belanda. Raja Buleleng menolak kedua permintaan Belanda tersebut dan kemudian Belanda menyerang Bali. Berkobarlah peperangan di Benteng Jagaraga dengan ideologi perang Puputan yang rela mati demi Kerajaan Buleleng. Perlawanan ini berlangsung hingga tahun 1890, walau akhirnya Benteng jagaraga dpat direbut Belanda.
Pada tahun 1894 Perang Lombok meletus karena Belanda merampas kapal Lombok dan menuntut supaya putra mahkota diserahkan kepada Belanda. Dalam pertempuran ini, rakyat Lombok berhasil membunuh Van Ham pemimpin Belanda. Kemudian Belanda menyerang lagi dan para pemimipin Lombok ditangkap dan dibunuh dan alat kebesaran Lombok dirampas.
l. Gerakan Protes Petani terhadap Belanda
Selain perang besar, timbul pula gerakan para petani sebagai protes terhadap Pemerintahan kolonial Belanda, antara lain:
- Pemberontakan kecil di beberapa daerah
- Petani Ciomas di lereng Gunung Salak melancarkan serangan terhadap orang-orang Belanda dan 40 orang Belanda terbunuh.
- Pemberontakan rakyat Sumatera Barat menolak pembayaran pajak.
- Perlawanan terhadap tuan tanah di ciampea, Pamanukan, Slipi, dan Condet.
5) Perjuangan Kebangkitan Nasional Indonesia
Kebangkitan nasional ini ditandai dengan timbulnya rasa cinta tanah air dengan faktor utama adalah :
- Adanya Politik Etis (balas budi) meliputi pendidikan, transmigrasi, dan Irigasi.
- Penderitaan rakyat Indonesia yang dapat menumbuhkan ras kebersamaan.
Akibat faktor diatas, dengan diprakarsai orang-orang yang berpikiran maju, yang sebagian besar dari mereka telah mengenal kemajuan negara-negara Barat melalui pendidikan, maka mulailah berdiri perkumpulan-perkumpulan di kalangan bangsa Indonesia yang mulai memperhatikan nasib rakyat Indonesia.
1. Organisasi Modern pada masa itu :
a. Budi Utomo (20-5-1908)
merupakan organisasi modern pertama yang didirikan oleh mahasiswa Sekolah Dokter Jawa ( Stovia Club Aslement). Dipelopori oleh Dr.Wahidin Sudirohusodo dan diketuai oleh Dr.Sutomo.
Ciri-ciri dari organisasi ini adalah :
- bersifat lokal/kedaerahan : anggotanya hanya meliputi Pulau jawa
- Modert (koperatif) yaitu mau bekerjasama dengan Belanda
- Tidak bersifat politik.
Tujuan dari organisasi ini adalah untuk meningkatkan taraf hidup penduduk pribumi di segala bidang.
b. Serikat Dagang islam (SDI) (1911)
organisasi ini dipelopori oleh Haji Samanhudi. Latar belakang organisasi ini adalah sebagai reaksi terhadap monopoli pedagang-pedagang Cina di Solo.Tujuan dari organisasi ini adalah :
- Meningkatkan konfrotasi (perlawanan terhadap penguasa Cina)
- Mamajukan perdagangan batik di Solo.
c. Sarekat Islam (1912)
organisasi dipelopori oleh H.O.S.Cokroaminoto. organisasi ini merupakan perkembangan dari Sarekat Dagang Islam. Tujuan organisasi ini adalah :
- Meningkatkan jiwa dagang (memajukan pedagang bumi)
- Membantu para anggota dalam hal modal
- Meningkatkan pendidikan
- Hidup menurut ajaran agma islam
- Meluruskan ajaran agama islam
Pada tahun 1921 diadakan Kongres Serikat Islam yang memutuskan Serikat Islam dibagi menjadi 2 menjadi :
- S.I Merah (komunis) yamg dipimpin oleh Darsono, Semaun, dan Tan-Malaka
- S.I Putih (PSII)/CSI ipimpin oleh Agus Salim
d. Indische Partij (1912)
merupakan organisasi politik utama yang dipeloporin olh “tiga serangkai” yaitu :
- Dr.Cipto Mangunkusumo
- Suwardy suryaningrat (KI Hajar Dewantara)
- Douwes Dekker (Danuadji).
Sifat dari organisasi ini adlah non-koperatif, bersifat Nasional dan merupakan partai Politik.
Tujuan dari organisasi ini adalah :
- Meningkatkan rasa Nasionalisme
- Mengurangi rasa kesukuan
- Mempersiapkan suatu Indonesia yang merdeka
- Meningkatkan rasa kebangsaan
2. Masa Sumpah Pemuda :
Proses terselenggaranya adalah:
- Kongres Pemuda I (30 April -21 Mei 1926)
Dihadiri oleh Yong-yong daerah (pemuda daerah) seperti Yong Java, Yong Sumatera bond, Yong Celebes, Yong Batak Bond.
Hasilnya adlah menyetujui penggabungan organisasi pemuda dan menyiapkan kongres berikutnya.
- Kongres Pemuda II (26-28 Oktober 1928 )
Peserta organisasi ini dihadiri dengan para politisi. Hasilnya adalah:
a. Sumpah Pemuda
b. Menyanyikan Lagu Kebangsan Indonesia Raya dengan iringan biola.
Menyetujui pembentukan Organisasi pemuda “Indonesia Muda”
Makna Sumpah pemuda
- Meningkatkan semangat persatuan
- Puncak pergerakkan kebangsaan Indonesia
Tindakan Belanda terhadpa hal ini adalah :
- memberlakukan KUHP
- memisahkan pemimipin dengan anggotanya
- melaksanakan adu omba
- Menyebar Polisi rahasia
- Melarang adanya perkumpulan
3. Masa Pasca Sumpah Pemuda :
Organisasi yang terbentuk setelah sumpah pemuda adalah :
a. PARINDRA (1935)
merupakan gabungan Budi Utomodan PBI yang diketuai oleh Dr.Sutomo. organisasi ini mengajukan tuntutan yang dikenal dengan PETISI SUTARJO :
- Diadakan onferensi Indonesia-Belanda atas dasar persamaan hak
- Indonesia memperoleh kemerdekaan dalam waktu 10 tahun lagi